Senin, 04 Februari 2008

KENDALIKAN BAHAN PENCEMAR LAPISAN OZON AGAR ATMOSFER LESTARI



Radyan Prasetyo

Why?
Pelestarian dan pengelolaan sumber daya alam untuk bumi ini mencakup hal yang sangat luas dan salah satunya adalah perlindungan terhadap atmosfer yang memberi fungsi lapisan yang melindungi bumi dari berbagai “serangan” benda angkasa, mulai dari asteroid, meteor, debu angkasa hingga sinar ultraviolet. Atmosfer mengalami tekanan makin besar akibat efek gas rumah kaca (GRK) yang mengancam perubahan iklim dan juga dari bahan-bahan kimia yang semakin menipiskan lapisan ozon.

Pemakaian fossil fuel menjadi sumber utama emisi ini, meskipun penggunaan energi ini sangat vital bagi pembangunan ekonomi dan perbaikan kehidupan. Namun konsumsi fossil fuel selama ini cenderung berlebihan dan tidak berkelanjutan. Energi hanya dikeruk dan dikeluarkan kemudian diekstrak dan dipergunakan sebagai bahan bakar. Pola konsumsi ini berlangsung menerus tanpa kita berpaling menuju penggunaan fuel yang lebih bijak. Disamping itu, perkembangan industri dengan kemajuan penciptaan zat-zat sintetis yang tidak seimbang dengan daya dukung dan daya tampung juga turut memacucepatkan kerusakan atmosfer kita saat ini.

Baru beberapa dasawarsa belakangan ini, kita dihadapkan pada kenyataan bahwa kemampuan atmosfer kita untuk mendukung kehidupan sudah jauh berkurang. Setelah adanya ancaman kehidupan manusia, kita baru mulai belajar menghargai atmosfer sebagai bagian dari diri sendiri.

Perkembangan industri yang begitu pesat telah mengakibatkan tidak seimbangnya penggunaan zat-zat kimia sintetis dengan daya dukung lingkungan atmosfer, sehingga terjadi kerusakan lingkungan dan pencemaran terutama dari zat kimia perusak lapisan ozon. Dalam pelaksanaan pembangunan berkelanjutan para pelaku kegiatan industri tidak hanya berusaha mengendalikan pencemaran, tetapi juga mengganti zat kimia yang merusak lapisan ozon.

Uap air, CO2, CH4, dan N2O merupakan gas rumah kaca yang alamiah ada di atmosfer, tetapi juga dilepaskan dalam jumlah besar oleh berbagai kegiatan dan aktivitas industri. Selain itu juga terdapat beberapa gas rumah kaca yang merupakan antropogenik seperti CFC (Chlorofluorocarbon) yang merupakan zat yang digunakan proses pendinginan. GRK tersebut akan berada di atmosfer selama puluhan tahun meskipun dilakukan tindakan pengurangan terhadap emisi sebelum sebelum konsentrasi gas di atas menurun. Jika konsentrasi gas rumah kaca terus meningkat, pemanasan global akan berdampak luas pada lingkungan dan manusia antara lain naiknya permukaan laut, kerusakan kehidupan tumbuhan dan peternakan di samping kesehatan manusia seperti kanker kulit, katarak mata dan lain sebagainya.

Masalah lingkungan menjadi isu global, dan pertama kali menjadi agenda resmi internasional pada Stockholm Conference on The Human Environment tahun 1972. Konferensi ini melahirkan kelembagaan internasional United Nations Environment Programme (UNEP). Kemudian pada tahun 1981 disusun pula kelompok kerja tentang “Convention for The Protection of The Ozone Layer”. Konvensi perlindungan lapisan ozon ini diterima sebagai Vienna Convention tahun 1985 dan disusun rencana kerja dalam bentuk protokol yang memuat sejumlah peraturan khusus sebagai implementasi yang dikenal sebagai Montreal Protocol Januari 1989. Tujuannya adalah mengurangi penggunaan CFC.

Tahun 1983 PBB membentuk The world Commission on Environment and Development (WCED) komisi independen yang memberikan rekomendasi terhadap persoalan lingkungan global dan menghasilkan laporan Our Common Future, yang didalamnya membahas berbagai program nyata dalam mengintegrasikan kepedulian lingkungan dan pembangunan ekonomi di tingkat internasional, nasional dan lokal. Disii pula diperkenalkan istilah pembangunan berkelanjutan (sustainable development) sebagai pembangunan yang memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa mengurangi kemampuan generasi yang mendatang untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.

What?
Ozon (O3) adalah suatu senyawa yang terdiri dari 3 (tiga) atom oksigen. Ozon terdapat di atmosfer, sedangkan sebagai produk aktivitas manusia ozon terkonsentrasi di permukaan bumi. Ozon juga merupakan gas rumah kaca karena dapat menyerap radiasi sinar matahari Berdasarkan sejarah perkembangan bumi, lapisan ozon stratosfer terbentuk sebagai akibat adanya organisme foto autotrofik yang mengeluarkan oksigen (O2). Beberapa molekul oksigen (O2) terurai ketika mereka menyerap energi sinar ultraviolet dan membentuk atom oksigen tunggal. Jika atom ini bergabung kembali dengan oksigen, maka akan terbentuk molekul ozon (O3), selanjutnya ozon yang terbentuk kemudian menyerap ultra violet dan pecah menjadi atom-atom oksigen, lalu terbentuk kembali menjadi molekul oksigen dan ozon. Proses pembentuk dan terurainya ozon ini terjadi secara terus-menerus dalam suatu keseimbangan dan menjadikan bumi lebih sesuai bagi kehidupan yang lebih komplek. Dan ozon mempunyai dua fungsi yang berbeda dalam perubahan lingkungan global. Ozon di lapisan stratosfer adalah sebagai pelindung yang menghalangi masuknya radiasi ultra violet yang berbahaya, dan pada lapisan troposfer di dekat permukaan bumi sebagai gas rumah kaca sekaligus ancaman bagi keselamatan.

Sebagai negara berkembang Indonesia tidak memproduksi bahan perusak ozon, namun kebutuhan akan bahan tersebut dilakukan dengan mengimpor dari negara-negara maju seperti Amerika, Eropa, China dan India.

1. Chlorofluorocarbon (CFC)
Chlorofluorocarbon atau CFC yang dipasaran lebih dikenal dengan sebutan freon (merk dagang), adalah bahan kimia turunan hidrokarbon sederhana (metan, etan, dan lain-lain). Namun pada CFC beberapa atom hidrogennya diganti dengan atom halogen. CFC merupakan bahan buatan manusia pertama kali diketahui dan dikarakteristik oleh DR. F. Swarts seorang peneliti Belgia di universitas Ghent pada tahun 1890-an. Ia menemukan bahwa ikatan CF dapat dibentuk dengan reaksi stokiometri SbF dengan ikatan C-Cl yang diaktifkan.

Awalnya tidak ada perhatian besar pada temuan ini, bary tahun 1928 Thomas Midgley dari General Motor menerapkan bahan tersebut pada peralatan pendingin. Sebelum CFC ditemukan, mesin pendingin menggunakan bahan refrigerant yang sudah umum dikenal yaitu CHCl, SO, NH, CHCl, CHCl, dan hidrokarbon. Secara teknis bahan-bahan tersebut memberikan efek pendinginan yang baik, namun berbau, mudah terbakar dan beracun. Clorin sifatnya yang stabil membuat senyawa ini mempunyai waktu tinggal sangat lama di atmosfer tanpa terurai. Radiasi sinar UV di stratosfer akan melepaskan atom klorin yang sangat reaktif, klorin inilah yang kemudian merusak molekul ozon (satu atom klorin merusak lebih dari 100.000 molekul ozon).

2. Halon
Halon, carbontetrachloride, dan methylchloroform, merupakan bahan-bahan kimia terhalogenasi (halogenated compound). Bahan-bahan kimia tersebut bersama CFC merupakan bahan kimia yang diawasi oleh Protokol Montreal, karena bahaya yang ditimbulkan bila bahan tersebut diemisikan ke atmosfer. Pemakaian halon mulai dikembangkan sejak akhir Perang Dunia II dan digunakan untuk pemadam kebakaran. Halon ini mengandung bromin yang 10 kali lebih kuat daripada klorin dalam merusak ozon. Halokarbon ini sangat efektif untuk pemadam api karena zat ini tidak menghantar listrik, cepat menyebar, tidak meninggalkan residu, dan tidak berbahaya bagi manusia.

How?
Dampak CFC terhadap Lingkungan
1. Penipisan lapisan Ozon
Walaupun keberadaan ozon memungkinkan perkembangan kehidupan, namun ozon juga merupakan gas beracun yang mengakibatkan iritasi gawat pada sistem pernapasan. Ozon hanya merupakan bagian kecil dari atmosfer. Dalam perjalanannya menuju bumi sinar matahari terlebih dahulu menembus lapisan ozon, dengan demikian radiasi ultraviolet yang mencapai bumi telah berkurang.

Teori pertama yang menunjuk CFC sebagai perusak ozon stratosfer dikemukakan pada tahun 1974 oleh F. Sherwood Rowland dan rekannya Mario Molina. Pendapat mereka tidak mendapat tanggapan, namun pada tahun 1981 sesuai dengan keputusan dari United Nations Environment Programme Governing Council, dibuatlah kelompok kerja yang bertugas meneliti masalah tersebut dan menyusun Convention for The Protection of The Ozone Layer. Pada tahun 1990-an, pada saat Protokol Montreal lebih diperketat, terdapat bukti adanya penipisan lapisan ozon, dan bukti jelas bahwa senyawa klorin dan bromina buatan manusia menjadi penyebab kerusakan itu.

2. Peningkatan Suhu Bumi
Atmosfer merupakan mesin dari sistem iklim secara fisik. Ketika radiasi dari matahari memasuki atmosfer, beberapa bagian direfleksikan kembali oleh awan dan debu dan lainnya diteruskan ke daratan. Dari radiasi yang langsung menuju kepermukaan, sebagian diserap oleh bumi dan sebagian dipantulkan kembali. Sebaliknya energi ini dipantulkan kembali ke bumi sehingga menaikkan suhu permukaannya. Gas seperti karbondioksida, metan, nitrogen oksida dan ozon troposfer sangat berguna sebagai penyerap radiasi inframerah yang ditimbulkan oleh bumi. Sebaliknya chlorofluorocarbon, merupakan senyawa yang menghancurkan lapisan pelindung ozon, yang menyerap radiasi ultraviolet yang berbahaya bagi manusia. Semakin banyaknya jumlah konsentrasi gas-gas tersebut di atmosfer, dan seiring dengan makin sedikitnya radiasi yang dilepaskan dari permukaan bumi ke angkasa, yang menyebabkan temperatur atau suhu bumi meningkat membuat banyak pihak mulai memperhatikan hal tersebut.

Sebagai hasil penelitian di lembah Amazon memperlihatkan bahwa hutan-hutan tropis berfungsi sebagai resapan ozon, dengan demikian maka perusakan hutan yang berkesinambungan dapat memberi efek nyata terhadap keseimbangan ozon regional. Ozon berfungsi sebagai gas rumah kaca di troposfer bagian atas dan stratosfer bagian bawah, karena itu perubahan konsentrasi ozon di daerah ini akan merubah skala pemanasan rumah kaca.

Lets Reduce
Produk yang Mengandung Bahan-bahan Perusak Lapisan Ozon
1. Alat pendingin
Penggunaan CFC pada alat pendingin antara lain pada produk lemari pendingin dan pendingin ruangan (AC). Lemari pendingin dibedakan lagi untuk keperluan rumah tangga (kulkas) dan industri (cold storage dan freezer). Sedangkan pendingin ruangan dibedakan atas AC untuk keperluan rumah tangga, AC mobil, dan AC sentral. Sistem pendinginan pada alat pendingin dilakukan dengan memanfaatkan pertukaran energi atau panas pada saat terjadinya perubahan wujud dari bahan refrigerant (gas ke cair dan cair ke gas).

2. Kasur Busa
CFC digunakan untuk mendorong bahan baku (blowing agent) karena dapat memberikan tekstur produk yang baik. Dengan teknologi yang ada sekarang banyak pabrik busa mempunyai beberapa pilihan lain tanpa hydrochlorofluorocarbon (HCFC). Produk kasur busa menggunakan CFC sebagai bahan penghembus untuk mendorong bahan yang akan dibuat. Jika busa yang diolah terbuat dari polystyrene, maka pentana dapat dijadikan penggantinya. Untuk produksi massal, bahhkan pentana lebih murah dibandingkan dengan CFC.

3. Aerosol
Produk-produk aerosol memanfaatkan CFC sebagai bahan pendorong untuk mengeluarkan produk dari tabung. Beragamnya jenis produk ini menempatkan produk aerosol sebagai pengguna CFC terbesar kedua setelah alat-alat pendingin.

4. Pelarut
Jenis CFC yang digunakan sebagai pelarut untuk pembersihan papan sirkuit elektronik, instrumen presisi (seperti disk drive computer), logam dan pakaian adalah CFC-113.

5. Pemadam Api
Halon adalah hidrokarbon yang mengandung bromin dan klorin. Namun sangat disayangkan sedikit kemungkinan untuk menemukan pengganti halon yang digunakan dalam pemadam api. Halokarbon ini sangat efektif untuk pemadam api karena zat ini tidak menghantar listrik, cepat menyebar, tidak meninggalkan residu, dan tidak berbahaya bagi manusia, walaupun daya rusak zat ini terhadap ozon sepuluh kali lebih besar daripada CFC. Halon-1301 berkemampuan untuk mengisi suatu ruang tertutup dan mematikan api tanpa membahayakan manusia dan merusak barang, merupakan suatu dilema yang sulit.

Alternatif Pengalihan Ods
Upaya-upaya lainnya dalam rangka pengurangan maupun penghapusan ODS, antara lain:
1. Menerima teknologi baru dari pihak lain yang bersedia meminjamkan teknologi baru
2. Mengadakan pendidikan dan pelatihan bagi karyawan/personal agar cocok dengan penggunaan teknologi baru
1. Menumbuhkembangkan dan merangsang sistem yang sesuai dengan teknologi non ODS
2. Mengadakan investasi bagi fasilitas produksi dan laboratorium uji untuk teknologi tanpa ODS
3. Sosialisasi penggunaan alternatif bahan non ODS melalui media cetak dan media elektronik
4. Mengadakan pertemuan rutin dengan beberapa instansi terkait dari tiap sektor ODS, pertemuan regional, dan internasional
5. Menguatkan kampanye ekolabeling pada produk yang dianggap ramah lingkungan (

1 komentar:

rofa cute mengatakan...

salam hormat,,,
Saya hanya memberitahukan informasi bahwa akan diadakan TRAINING SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN 1S0 14001 dan TRAINING SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA OHSAS 18001, pada tanggal 6-7 desember 2008 di Aula student center UNIVERSITAS ISLAM NEGERI(UIN) SYARIF HIDAYATULLAH,FASILITAS YANG AKAN DIDAPATKAN 2 SERTIFIKAT TERSTANDARDISASI, COFEE BREAK, LUNCH, SEMINAR KIT,DLL. BIAYA PENDAFTATARAN HANYA 800.000 UNTUK UMUM, MAHASISWA HANYA 550.000. PENDAFTRAN BISA DILAKUKAN DI KAMPUS 2 (LANTAI 3)UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA. SANGAT DIHARAPKAN PARTISPASI ANDA DALAM MENGIKUTI TRAINING INI. TERIMA KASIH.